CJR PSIKOLOGI I
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Alasan saya memilih jurnal Psikologi Pendididan dan Ilmu mengajar, Psikologi pendidikan merupakan ilmu pengetahuann yang berbicara tentang tingkah laku manusia dalam proses belajar-mengajar, dan ia memiliki hubungan erat dengan ilmu mengajar. Di mana dalam proses mengajar, para pendidik dituntut untuk memiliki pengetahuan yang memadai tentang materi yang diajarkan, dan juga menguasai berbagai metode dalam penyampaian agar apa yang disampaikan dapat dimengerti dan mudah dipahami oleh anak didik. Jadi penguasaan terhadap ilmu jiwa pendidikan (psikologi pendidikan) merupakan suatu tuntutan bagi para pendidik. Adapun psikologi pendidikan diartikan secara sederhana adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia yang berlangsung dalam proses belajar-mengajar. Sedangkan mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Dalam proses belajar-mengajar, pendidik harus memperhatikan keadaan anak didik, tingkat pertumbuhan dan perbedaan perorangan yang terdapat di antara mereka. Karena para ahli dalam hal ini menggolongkan murid kepada tiga tipe: (1) Tipe Auditif, yang mudah menerima pelajaran melalui pendengaran. (2) Tipe Visual, yang mudah merima pelajaran melalui penglihatan. (3) Tipe Metodik, yang mudah menerima pelajaran melalui gerakan.
Dan alasan saya memilih jurnal yang kedua sebagai pembanding yaitu yang berjudul Penerapan Pendidikan Karakter Untuk Mencegah Kecenderungan Penyalahgunaan Narkoba SMK Negeri 5 Makassar, mengetahui gambaran kecenderungan penyalahgunaan narkoba sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan konseling berbasis pendidikan karakter pada siswa di SMK Negeri 5 Makassar?. Apakah ada pengaruh layanan bimbingan konseling berbasis pendidikan karakter untuk mencegah penyalahgunaan narkoba pada siswa SMK Negeri 5 Makassar?. Pendekatan penelitian adalah kuantitatif dengan jenis true eksperiment. Desain penelitian ini adalah pretest – posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah 110 siswa dan sampel sebanyak 60 siswa. Teknik penarikan sampel adalah purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan: Gambaran kecenderungan penyalahgunaan narkoba pada siswa sebelum diberikan layanan bimbingan konseling berbasis pendidikan karakter berdasarkan hasil pretest baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol pada umumnya berada pada kategori tinggi. Setelah diberikan BK berbasis pendidikan karakter berdasarkan hasil posttest kelompok eksperimen berada pada kategori rendah sedangkan kelompok kontrol yang tidak diberi layanan BK berbasis karakter namun mendapatkan perlakuan berupa layanan BK dari konselor sekolah pada umumnya masih berada pada kategori tinggi. Ada perbedaan yang signifikan antara penerapan layanan BK berbasis pendidikan karakter dengan siswa yang diberikan layanan BK oleh konselor sekolah untuk mencegah kecenderungan penyalahgunaan narkoba pada siswa SMK Negeri 5 Makassar.
Rumusan Masalah
Jelaskan alasan memilih jurnal tersebut ?
Apa kelemahan dan kelebihan dari setiap jurnal ?
Apa arti Psikologi Pendididan dan Ilmu mengajar ?
Batasan Masalah
Pada CJR ini batasan masalahnya yaitu hanya membahas tentang kajian-kajian Psikologi Pendididan dan Ilmu mengajar dan Pendidikan Karakter Untuk Mencegah Kecenderungan Penyalahgunaan Narkoba SMK Negeri 5 Makassar, sehingga bisa memahami lebih dalam tentang Psikologi ini.
Tujuan Masalah
Untuk mengetahui alasan pengkritik dalam memilih jurnal.
Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan jurnal.
Mengetahui berbagai olahan-olahan yang dapat dijadikan suatu makan yang enak dan bergizi dan bisa dikonsumsi baik ia instan maupun tidak.
Manfaat
Manfaat dari dari critical journal riview ini yaitu dapat meningkatkan pengetahuan dalam manusia sebagai komunitas yang memiliki akal dan jiwa dapat menerima ilmu dari proses interaksi yang dilakukan dengan lingkungannya. memiliki korelasi yang erat dalam dunia pendidikan, sebagaimana dipahami bersama bahwa manusia adalah makhluk yang dapat diajar dan mengajar.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Tinjauan Teoritis
Psikologi
Kata psikologi berasal dari bahasa inggris psychology yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa. Kata pychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu: (1) psyche yang berarti jiwa; (2) logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiyah psikologi memang berarti ilmu jiwa.
Psikologi pendidikan sebagai salah satu cabang dari psikologi dan merupakan ilmu pengetahuann yang berbicara tentang tingkah laku manusia dalam proses belajar-mengajar memiliki hubungan yang erat dengan ilmu mengajar. Di mana dalam proses mengajar, para pendidik dituntut untuk memiliki pengetahuan yang memadai tentang materi yang diajarkan, dan juga menguasai berbagai metode dalam penyampaian agar apa yang disampaikan dapat dimengerti dan mudah dipahami oleh anak didik. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ilmu jiwa pendidikan (psikologi pendidikan) juga merupakan suatu tuntutan bagi orang-orang yang bergelut dalam dunia pendidikan.
Psikologi pada mulanya digunakan para ilmuan dan para filosof sebagaimana disebutkan oleh Reber untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam memahami akal pikiran dan tingkah laku aneka ragam makhluk hidup mulai yang primitif sampai yang paling modern. Namun ternyata tidak cocok, lantaran menurut para ilmuan dan filosof, psikologi memiliki batas-batas tertentu yang berada diluar kaidah keilmuan dan etika falsafi. Kaidah saintifik dan patokan etika filosofis ini tak dapat dibebankan begitu saja sebagai muatan psikologi. Sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri pada tahun 1879 M, psikologi memiliki akar-akar yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga kini (sekarang) masih tampak pengaruhnya. Dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan menjelaskan apa-apa yang terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis (jasmaniah). Sedangkan dalam filsafat, psikologi berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan akal, kehendak, dan pengetahuan. Karena kontak dengan berbagai disiplin itulah, maka timbul bermacam-macam defenisi psikologi yang satu sama lain berbeda, seperti:
1. Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental (the science of mental life).
2. Psikologi adalah ilmu mengenai pikiran (the science of mind).
3. Psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the science of behavior); dan lainlain defenisi yang sangat bergantung pada sudut pandang yang mendefenisikannya.
Pendidikan
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik”, dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini awalnya berasal dari bahasa Yuanani, yaitu “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa arab istilah ini sering diterjemahkan dengan “Tarbiyah” yang berarti pendidikan.3 Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memeroleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam pengertian yang luas, pendidikan ialah seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan prilakuprilaku manusia, juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan.
Psikologi pendidikan pada asasnya adalah sebuah disiplin psikologi (atau boleh juga disebut subdisiplin psikologi) yang menyelidiki masalah-masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. lalu, hasil-hasil penyelidikan ini dirumuskan ke dalam bentuk konsep, teori, dan metode yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan proses belajar-mengajar. Alhasil, psikologi pendidikan dapat digunakan sebagai pedoman praktis, disamping sebagai kajian teoritis.
Menurut Abd. Rachman Abror, defenisi psikologi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli kiranya tidak nampak adanya perbedaan yang esensial. Satu sama lain mengandung titik kesamaan pandangan. Sehingga Ia menyimpulkan, psikologi pendidikan adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia yang berlangsung dalam proses belajar-mengajar.
Istilah mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Mengajar adalah sebagai kegiatan guru. Disamping itu, mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Menurut pengertian ini berarti tujuan belajar dari siswa itu hanya sekedar ingin mendapatkan atau menguasai pengetahuan. Sebagai konsekuensi pengertian semacam ini dapat membuat suatu kecendrungan anak menjadi pasif, karena hanya menerima informasi atau pengetahuan yang diberikan oleh gurunya.
Psikologi Pendidikan dan Ilmu Mengajar
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan, hal ini karena keeratan hubungan antara keduanya. Sebagian orang menganggap mengajar hanya sebagian dari upaya pendidikan. mengajar hanya dianggap sebagai salah satu alat atau cara dalam menyelenggarakan pendidikan, bukan pendidikan itu sendiri. Konotasinya jelas, karena mengajar hanya salah satu cara mendidik maka pendidikan pun dapat berlangsung tanpa pengajaran. Anggapan ini muncul karena adanya asumsi tradisional yang menyatakan bahwa mengajar itu merupakan kegiatan seorang guru yang hanya menumbuhkembangkan ranah cipta murid-muridnya, sedangkan ranah rasa dan karsa mereka terlupakan.
Berbicara mengenai mengajar ini, ada dua macam pandangan yang berbeda dalam melihat profesi mengajar. Pandangan pertama menganggap mengajar sebagai “ilmu”, sedangkan pandangan kedua menganggap mengajar sebagai “seni”. Sebelum membahas tentang mengajar sebagai “ilmu”, penulis kemukakan terlebih dahulu tentang mengajar sebagai “seni”. Pandangan yang mengatakan mengajar adalah seni, bukan ilmu karena tidak semua orang berilmu (termasuk orang yang berilmu pendidikan) bisa menjadi guru yang piawai dalam hal mengajar. Memang sulit disangkal bahwa untuk menjadi guru yang profesional orang harus belajar dan berlatih dilingkungan16 instansi pendidikan keguruan selama bertahun-tahun. Namun, kenyataan lain menunjukkan bahwa dalam mengajar terdapat faktor ‘tertentu” yang abstrak dan hampir mustahil dipelajari. Sebagai contoh, seorang pakar yang “mumpuni” dalam sebuah bidang studi umpamanya bidang studi agama dan bahkan telah memiliki pengetahuan keguruan yang cukup, belum tentu mahir mengajar agama kepada orang lain. Dalam kenyataan sehari-hari terkadang kita saksikan seorang guru agama atau bahkan seorang yang terlanjur berpredikat ulama yang sama sekali tidak menarik dan membosankan ketika ia berceramah atau berdiskusi mengenai masalah keagamaan.
Kegiatan mengajar memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya, yakni pengajar, materi yang diajarkan dan metode yang dipakai di dalam memberikan pelajaran, dan lain-lain. Seorang pengajar memiliki fungsi antara lain sebagai komunikator. Ia berfungsi sebagai sumber dan penyedia informasi. Kemudian menyaring, mengevaluasi informasi yang tersedia dan mengolahnya ke dalam suatu bentuk yang cocok bagi kelompok penerima informasi (komunikasi), sehingga kelompok penerima informasi dapat memahami informasi tersebut sebaik-baiknya dan setepat mungkin. Informasi yang disampaikan oleh seseorang pengajar dalam konteks pengajaran adalah pengetahuan tertentu yang ditransfer kepada para pelajar, sehingga membantu membawa atau mengantarkan mereka baik secara individu maupun kelompok kepada tingkat perkembangan kepribadian yang lebih tinggi dari apa yang dimiliki sebelumnya.
Islam sebagai sebuah agama mengajarkan bahwa dalam menyampaikan pelajaran, seorang pengajar tidak mendorong pelajarnya untuk mempelajari sesuatu di luar kemampuannya. Atau dengan kata lain bahwa dalam proses belajar-mengajar, pengajar harus memperhatikan keadaan pelajar, tingkat pertumbuhan dan perbedaan perorangan yang terdapat di antara mereka. Karena para ahli dalam hal ini menggolongkan murid kepada tiga tipe: (1) Tipe Auditif, yang mudah menerima pelajaran melalui pendengaran. (2) Tipe Visual, yang mudah merima pelajaran melalui penglihatan. (3) Tipe Metodik, yang mudah menerima pelajaran melalui gerakan.18 Dalam hubungan ketiga tipe di atas seorang pengajar harus dapat pula mempergunakan beberapa metode sehingga dapat mengaktifkan seluruh alat dari pelajar, baik alat visual, auditif, maupun motoriknya.
Dalam proses belajar mengajar, Islam selalu memperhatikan dan menghormati harkat, martabat dan kebebasan berpikir mengeluarkan pendapat dan menetapkan pendirian. Sehingga anak didik (pelajar) belajar merupakan hal-hal yang menyenangkan dan sekaligus mendorong kepribadiannya berkembang secara optimal, sedangkan bagi guru, proses mengajar merupakan kewajiban yang bernilai ibadah, yang dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT di akhirat.
Ada banyak metode mengajar mulai dari yang paling tradisional sampai yang paling modern. Namun ada empat macam metode mengajar yang dominan dalam arti sering digunakan secara luas sejak dahulu hingga sekarang pada setiap jenjang pendidikan formal. Tiga dari empat metode mengajar tersebut bersifat khas dan mandiri, sedangkan yang lainnya merupakan kombinasi antara satu metode dengan metode lainnya. Metode campuran ini –sebut saja “metode plus”-bersifat terbuka artinya setiap guru yang profesional dan kreatif dapat memodifikasi atau merekayasa campuran metode tersebut sesuai dengan kebutuhan., yaitu: metode ceramah, Metode Diskusi, metode demonstrasi, metode ceramah plus.
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 5 Makassar guna mengetahui gambaran kecenderungan penyalahgunaan narkoba pada siswa dan pengaruh penerapan layanan bimbingan konseling berbasis pendidikan karakter untuk mencegah kecenderungan penyalahgunaan narkoba pada siswa, yang dilakukan secara eksperimen selama 8 kali pertemuan (6 tahap perlakuan, 2 tahap pretest dan posttes) . Hasil penelitian tersebut disajikan dalam bentuk analisis statistik deskriptif, dan analisis statistik inferensial dengan uji t-tes tuntuk pengujian hipotesis. Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk memperoleh gambaran kecenderungan penyalahgunaan narkoba pada siswa sebelum dan setelah diberikan layanan bimbingan konseling berbasis pendidikan karater. Data hasil penelitian yang diperoleh adalah data hasil pengisian angket kecenderungan penyalahgunaan narkoba pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tingkat kecenderungan penyalahgunaan narkoba pada siswa di SMK Negeri 5 Makassar untuk kelompok eksperimen saat pretest sebanyak 4 responden atau 13,33 persen berada pada kategori sangat tinggi dan 26 responden atau 86,67 persen berada pada kategori tinggi. Setelah diberikan perlakuan berupa layanan bimbingan konseling berbasis pendidikan
karakter sebanyak 6 tahap, maka tingkat kecenderungan penyalahgunaan narkoba pada
siswa mengalami penurunan, dimana sebanyak23 responden atau 76,67 persen kategori rendah, dan 7 responden atau 23,33 persen berada padakategori tinggi yang berarti dominan responden berada pada kategori rendah.
BAB III
IDENTITAS JURNAL
Jurnal Utama
Judul Jurnal : Psikologi Pendididan dan Ilmu mengajar
Penulis : Muhammad Ichsan, S.Pd.I, M. Ag
Lembaga Penulis : Dosen Pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Nama Jurnal : Jurnal Edukasi.
Vol./No. : Vol.2./No.1.
ISSN : 2460-4917
Penerbit : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Tahun Terbit : 2016
Jurnal Pembanding I
Judul Jurnal : Penerapan Pendidikan Karakter Untuk Mencegah Kecenderungan Penyalahgunaan Narkoba SMK Negeri 5 Makassar .
Penulis : Hasbahuddin
Lembaga Penulis : -
Nama Jurnal : Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling.
Vol./No. : Vol./1. No.2.
ISSN : 2443-2202
Tahun :2015.
BAB IV
PEMBAHASAN
Kelebihan Jurnal
Adapun kelebihan dari jurnal utama yang saya gunakan yaitu:
Jurnal Utama
Pada jurnal ini terdapat abstrak bahasa Inggris.
Dalam jurnal ini juga bulan terbitnya juga di paparkan.
Terdapat alamat Email si penulis.
Terdapat emai dan nomor telephone.
Penulisan kalimat pada jurnal ini mudah dipahami dan mudah di mengerti.
Pada jurnal ini terpapar jelas bahwa Psikologi Pendidikan ini sangat erat kaitannya dengan belajar mengajar.
Vol/No ISSN juga terdapat pada jurnal.
E-ISSN juga terdapat pada jurnal ini.
Kata kunci dari isi jurnal itu dipaparkan dengan jelas dalam jurnal.
Di dalam jurnal juga terdapat bebrapa ayat Al-quran yang berkaintan dengan isi jurnal.
Jurnal Pembanding I
Pada jurnal ini terdapat abstrak bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya sehingga kita si pembaca mudah memahaminya.
Kalimat pada jurnal ini mudah dipahami sehingga kita pada saat membacanya jadi ingin lebih tau seluruh isi jurnal.
Isi jurnal juga mencakup seluruh dari pencegahan narkoba pada siswa SMK Negeri 5 Makassar.
pada jurnal juga terdapat beberapa penelitian dalam berbagai kalangan siswanya.
Vol/No ISSN juga terdapat pada jurnal.
E-ISSN juga terdapat pada jurnal ini.
Kata kunci dari isi jurnal itu dipaparkan dengan jelas dalam jurnal.
Kekurangan Jurnal
Adapun kekurangan pada setiap jurnal adalah :
Jurnal Utama
Pada jurnal pertama tidak terdapat kata terima kasih dan saran.
Ada sebagian penulisan pada jurnal Eyd nya tidak benar.
Halaman pada jurnal tidak diawali dengan halaman 1 melainkan halaman 60.
Jurnal pembanding
Pada jurnal tidak tertulis lembaga penulisnya.
Ada bebrapa kesalahan penulisan kata dalm jurnal.
Sistematika penulisannya tidak sesuai dengan EYD.
Pada jurnal tidak terpacu pada psikologi melainkan terhadap penyalah gunaan narkoba tersebut.
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkahlaku manusia yang berlangsung dalam proses belajar-mengajar. Mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar . Mengajar mengandung tujuan agar pelajar dapat memperoleh pengetahuan yang kemudian dapat mengembangkan dengan pengembangan pengetahuan itu pelajar mengalami perubahan tingkah laku. Bahan pelajaran yang disampaikan berproses melalui metode tertentu, sehingga dengan metode yang digunakan tujuan pengajaran dapat tercapai . Ada dua macam pandangan yang berbeda dalam melihat profesi mengajar. Pandangan pertama menganggap mengajar sebagai “ilmu”, sedangkan pandangan kedua menganggap mengajar sebagai “seni” . Pandangan yang menganggap mengajar sebagai ilmu dapat menimbulkan konotasi bahwa seseorang yang dikehendaki menjadi guru, misalnya oleh orang tuanya sendiri, akan dapat menjadi guru yang baik asal ia dididik di sekolah atau fakultas keguruan. 6. Islam mengajarkan bahwa dalam menyampaikan pelajaran, seorang pengajar tidak mendorong pelajarnya untuk mempelajari sesuatu di luar kemampuannya. Atau dengan kata lain bahwa dalam proses belajar-mengajar, pengajar harus memperhatikan keadaan pelajar, tingkat pertumbuhan dan perbedaan perorangan yang terdapat di antara mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Hasbahuddin, Penerapan Pendidikan Karakter Untuk Mencegah Kecenderungan Penyalahgunaan Narkoba SMK Negeri 5 Makassar (Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling: Makassar, 2015).
Ichsan Muhammad, Psikologi Pendididan dan Ilmu mengajar (Jurnal Edukasi: Banda Aceh, 2016 ).
Komentar
Posting Komentar